Antara Bangkok dan Jakarta
Pesawat Indonesia Air Asia (sorry, saya harus mencantumkan nama Indonesia, wong saham Indonesia ternyata gede banget di Air Asia) mendarat terlambat di Bandara Suvarnabhumi di Bangkok. Keterkejutan saya dimulai ketika memasuki areal terminal bandara baru yang menjadi kebanggaan Thaksin Sinawatra, si PM tersingkir yang murah senyum itu. Dengan langit langit yang tinggi, struktur bangunannya sengaja diperlihatkan, seolah ingin mengatakan pada para tamu dari luar negeri, “inilah otot kekar kami, lihatlah kehebatan kami, selamat datang di Thailand”…mungkin.
Tapi betul, jangan mencoba membandingkannya dengan Soekarno Hatta, apalagi bandara adi soemarmo yang seperti kantor koperasi unit desa (KUD) jaman dulu, bisa pening sendiri. Bandingkan dengan KLIA atau (bahkan) Changi…baru sepadan. Sayang sekali Thaksin keburu dikudeta, kalau tidak mungkin dia bisa menjadi Mahathir-nya Thailand. Mahathir sendiri pernah sekali memuji Thaksin, sebagai orang kuat di ASEAN masa sekarang.
Counter Imigrasi, meski wajahnya serius (konon semua petugas imigrasi di seluruh dunia disuruh mahal senyum), tapi mereka professional dan tidak asal seram. Di Heathrow (London), petugas imigrasinya malah senyum senyum sendiri, dan nawarin kopi (yang terakhir becanda).

Suvarnabhumi Airport, Bangkok
Calo taksi ada, bedanya dengan Jakarta adalah, mereka tidak memaksa, apalagi pakai acara marah marah kalau kita nggak mau. Orang merokok juga ada (meski sedikit), tapi mereka membuang puntungnya secara bertanggungjawab, nggak tau tempat sampahnya dimana. Dari luar, bandara ini kelihatan besarnya, ada 4 lantai, dan masing masing lantai ada jalur taksinya, yap…..jalannya tingkat……EMPAT !
Tidak ada “itu”..
Malam itu, saya sempatkan bermain ke Kaohsan Road, tempat para bule bule ngumpul dan bersenang senang. Tapi….tunggu, sungguh saya tidak melihat perempuan perempuan berpakaian seksi menjajakan diri seperti banyak dibicarakan orang, seperti di Angeles City, di utara Manila. Kata orang, dulunya Kaohsan road memang ajang begituan, tapi rupanya sang raja Bumibol Adulyadej (hehehe…ingat pelajaran SD) jengah juga dengan julukan itu, dan lagian, Kaohsan tidak berapa jauh dari King Palace, tempat sang raja tidur sehari hari. So, jadilah, losmen losmen dan hotel hotel selalu meletakkan tulisan di resepsionis, “NO THAI BEYOND THIS LINE, artinya, nggak boleh ada orang lokal masuk, laki laki atau perempuan, mencegah orang lokal menjajakan diri kepada para tamu dari luar negeri.
Sempat semalam saya menginap di kawasan penuh alcohol dan orang orang mabuk, serta musik yang keras, sekedar melengkapi rasa ingin tau saja. Hotel seharga THB 800, atau sekitar Rp.240 ribu, cukup bagus, ada TV satelit juga, dan ternyata tidak ada channel ‘khusus dewasa’ seperti perkiraan saya sebelumnya.
Sayang “sang raja”
Jangan heran, di hampir seluruh pelosok Thailand, foto raja dan symbol symbol kerajaan dipajang di pinggir jalan, di gedung gedung tinggi, dan di kantor kantor. Saya sempat memasuki sebuah rumah seorang muslim di Bangkok timur terpampang sampai…..4 foto sang raja. Alasannya jelas, mereka sayang raja mereka. Tapi mengapa? Saya ‘hanya’ mendapatkan dua jawaban yang sudah cukup memuaskan saya; yakni mereka melihat raja sangat giat bekerja, memajukan Thailand, membangun bendungan bendungan, jalan, jembatan, dan bahkan dikabarkan bekerja sampai dini hari, hampir setiap hari. Raja ini juga (konon) sering menyambangi rakyatnya dengan 'sembunyi sembunyi' dan memberi santunan.

Sang Rama IX, Bumibol Adulyadej
Jawaban kedua adalah, dari kecil, semua guru diwajibkan memberikan cerita bagus kepada anak anak muridnya, dan menanamkan kebanggaan menjadi ‘abdi dalem’. Seseorang mengatakan bahwa sebenarnya rakyat “terperangkap” dalam doktrinasi itu. Apapun itu, raja memang berperan penting menyatukan Thailand, menumbuhkan spirit mengabdi, dan bekerja dengan keras untuk bangsanya. Konon, tim sepakbola Thailand akan menangis di ruang ganti kalau tim-nya kalah, mereka akan bilang “kita telah mengecewakan raja”.
Sehari hari, stasiun TV menyiarkan slot khusus untuk ‘menghormati’ raja. Di bioskop, sebelum film dimulai, akan juga diisi film pendek tentang sang raja, dan semua orang wajib….berdiri, seperti pada upacara bendera (percaya atau tidak, tangan saya refleks mau hormat, tapi ternyata tidak ada acara pengibaran bendera hahaha). pemerintah akan memberikan hukuman keras apabila kita tidak berdiri...yakni hukuman penjara 6 tahun..
Bagaimana dengan Indonesia? Jangan kuatir, masa masa ini, banyak foto foto berpeci, berkumis tipis khas orang jadul dan kampungan Indonesia, senyum dipaksakan, dan…..mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Terserah mau menilai apa, yang jelas, peran mereka tidak sama dengan raja Thailand, meski foto mereka terpasang nggak karuan dimana mana, tanpa sadar bahwa banyak orang ingin muntah !!!!! tengoklah foto besar yang terpampang di jembatan AMPERA Palembang, jujur saja jawab, apakah mereka menambah keindahan, atau justru mengganggu pemandangan.? Silakan dijawab dalam hati..
Jakarta dilawan…..

Bangkok Superhighway
Dari dulu saya suka membandingkan mbandingkan kota dengan kota, dari sisi arsitektur bangunan bangunan tingginya. Saya berkeliling kesana kemari, ternyata….huraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaay…..bangunan bangunan tinggi di Bangkok umumnya berdesign …murahan, dan masa lalu…gedung tertinggi di Bangkok, hanyalah seperti gedung BRI lama, namun jauh lebih tinggi. Gedung gedung lain sepertinya nggak jauh beda, nggak tau, apakah para arsitek di Thailand tidak pernah sekolah yaa..? hihihih
Mari bandingkan dengan gedung gedung baru di Jakarta, atau superblok superblok yang sedang dibangun dan hampir selesai. Tahun 2012, gedung tertinggi di Asia Pacific akan jadi, yakni Jakarta tower di Kemayoran….soal ini, sekali lagi, Jakarta jauh diatas Bangkok. Bahkan, sekali lagi hanya soal design bangunan tinggi, kita lebih baik dibanding kota kota tetangga, KL, Brisbane, Merlbourne. Jakarta dilawaaan….
Soal tata kota, terdengar sayup sayup ..tangisan Jakarta jauuuuuh di belakang sana….hahaha…..meratapi ketertinggalannya….hehehe
Tapi sebenarnya, dari layout saat ini, kelihatan sekali bahwa dulunya Bangkok adalah kota yang semrawut dan tidak teratur, namun lambat laun, seiring meningkatnya jumlah wisatawan ke Thailand, dan seiring kesadaran masyarakat (tentunya), Bangkok berbenah dan mulai menampakkan hasil. Hal yang pertama dilakukannya adalah membersihkan sidewalks, atau trotoar. Trotoar, selain harus bersih dari kaki lima, juga harus ditata, paving block yang rapi dan tahan lama, dan bersih dari puntung puntung rokok (tidak banyak orang merokok di Thailand), dan sampah sampah platik. “sentuhan kecil” ini membuat Bangkok terlihat sangat berbeda. Jangan dulu dibandingkan dengan Kuala Lumpur, atau Singapore yang memenuhi sisi kanan kiri jalan dengan pohon pohon rindang segede gaban, tapi usaha Bangkok ini layak ditiru juga di Jakarta. Bedanya, kalau rakyat sana susah ditertibkan, raja turun tangan, beres semua, di Jakarta, orang orang yang susah ditertibkan segera bersatu membela hak mereka, membuat bamboo runcing, dan melawan trantib, hahahahaha, ingat, di sini, presiden kita pun tidak begitu dihormati oleh bawahan bawahannya.
Shukumvit dan Skytrain

BTS 'Skytrain"
Mengunjungi Shukumvit, seolah seolah semakin memantapkan pandangan saya, bahwa Jakarta memang sudah jauh di belakang. Jajaran gedung gedung perkantoran yang tinggi, enak dipandang, berbagi tempat dengan taman taman hijau, dan ruang terbuka, juga warung warung makan yang ditata dengan apik, sehingga makin menambah lengkap district ini. Jalan jalan yang lebar (ada juga yang sempit tapi tidak macet dan tetap bersih, jangan harap ada pak ogah disana), flyover flyover yang apik, dan skytrain yang melintas, membuatnya menjadi ibukota paling baik ke tiga di ASEAN setelah Singapore atau Kuala Lumpur (pilih mana yang lebih dulu). Bisa jadi, dalam waktu dekat, Hanoi akan menyusul. Kalau saja pemerintah kita mulai membuka wacana untuk pindah Ibukota, ke Cirebon misalnya, (saya mengusulkan bukittinggi), kita bisa jadi menjadi yang ke empat. Jakarta sudah…hopeless. Jangankan monorail, banjir kanal timur pun sudah bertahun tahun nggak beres….
Shukumvit, seperti halnya Thamrin-Sudirman-Kuningan, adalah bukti nyata kegagahan ekonomi Thailand yang stabil dan progressif dari waktu ke waktu, dan bukti bahwa bangsa siam adalah bangsa yang tidak kenal lelah, dan menatap jauuuh kedepan. Ratusan tahun yang lalu, bangsa ini selama ratusan tahun menderita hebat akibat serangan bangsa burma dari selatan. Tidak sekalipun Kerajaan Siam menerima tawaran gencatan senjata, atau menyatakan menyerah, ibukota Ayutthaya terlalu hancur lebur untuk bisa dibangun kembali, dan akhirnya ibukota dipindahkan ke Bangkok. Cerita cerita hebat dibalik semua pertempuran pertempuran itu, selalu dingiang-ngiangkan di benak rakyatnya melalui cerita cerita di buku sejarah, film film nasional, dan tv tv..dan terbukti, hal ini menyatukan perasaan sebangsa dan senasib mereka, membentuk satu visi dan tujuan di depan…
Taksi yang berbau dupa/bunga sesaji
Satu yang saya sayangkan, bangkok belumlah senyaman KL atau Singapore dalam hal mass transport terutama train. Di KL atau Singapore, hampir semua sudut bisa dituju dengan train, dengan harga yang murah, dan kondisi stasiun yang relatif baik dan manusiawi. Di Bangkok yang begitu besar, jumlah rute Skytrain (begitu mereka menyebutnya, meski nama resminya adalah ”BTS”) tidak memadai, sehingga banyak tempat tempat penting yang tidak tertembus oleh skytrain ini. Sudah begitu, train stations-nya juga terkesan ’melelahkan’ dan ’tidak manusiawi’, bagaimana tidak, seseorang harus naik tangga yang curam, dan berkelok kelok, sebelum akhirnya bisa masuk ke platform, mengingatkan saya pada stasiun stasiun tua di kota London, dengan anak tangga yang tak terhitung, dan curam. Pertanyaannya adalah, apa susahnya memasang escalator?
Dengan tangga yang begitu banyak, orang yang mempunyai keterbatasan fisik, atau lanjut usia, atau orang dengan begitu banyak barang bawaan (tas besar, tas laptop, tas kamera, buku buku) seperti saya kemaren, akan malas dan lebih memilih taksi.
Taksi di Bangkok lumayan ok, harganya tidak terlalu mahal (dibanding jakarta, Kl, atau Singapore), mobilnya keluaran baru (kebanyakan Corolla Altis) dan mesinnya rata rata masih bagus. Namun, sayangnya, semua taksi yang saya tumpangi ...berbau dupa, atau bunga. Baunya wangi, namun menyesakkan. Pertamanya ok, namun lama lama...pengin muntah juga...keluar taksi langsung lemas. Kalau dijakarta, banyak pedagang asongan menawarkan jajanan, tahu pong, atau kacang rebus, disana pedagang asongan menawarkan sejuntai bunga yang sudah disambung sambung...dan berbau sangat wangi.
Sebenarnya, kalau sekedar mengejar Bangkok dari sisi kemajuan kota, Jakarta bisa dengan mudah mengejar, atau bahkan melampaui. Kuncinya adalah kerjasama semua pihak, pemerintah yang arif, media yang mendukung, dan rakyat yang rela berkorban. Paling tidak, rakyat harus rela tinggal di flat flat dan bukan berdesak desakan di rumah rumah sempit dengan gang gang yang tidak bisa dimasuki mobil. Setiap (misalnya) 10 blok flat, akan dibangun jalan jalan penghubung. Eks bangunan bangunan rumah lama, dibuat ruang terbuka atau taman taman kota. Kemudian, trotoar diperlebar, tidak boleh dibangun kalilima, dan disisi luar trotoar, harus ada tumbuhan rindang yang kokoh..barulah boleh ada bangunan. Sungai sungai harus dipandang sebagai aset, bukan sesuatu yang dipandang marjinal. Bangkok benar benar memanfaatkan sungai untuk wisata, bukan perumahan, bukan tempat buang sampah, bukan tempat mencuci.
Kalau dulu jaman kemerdekaan, begitu banyak orang yang rela mati demi kemerdekaan bangsanya, sekarang seharusnya tidak ada masalah apabila kita berkorban, mengikhlaskan sejumput lahan kita, untuk pembangunan. Malaysia dan Singapura, mendominasi perolehan FDI (Foreign Direct Investment) di ASEAN, bukannya apa, karena infrastruktur mereka baik, orang orang mau diatur dan tidak mudah terprovokasi untuk berdemo. Tanyalah pada Mahathir dan Lee, bagaimana mereka awalnya mengatur rakyatnya (mumpung mereka masih ada). Jawabannya satu,..penegakan disiplin bangsa, dan semangat kemajuan.
Bangsa kita, sudah lebih dari sepuluh tahun, menghina dan mengolok-olok dirinya sendiri, kita terlalu sering meludah ke atas, dan jatuh mengenai muka kita. Rakyat selalu saja diprovokasi untuk tidak mempercayai pemerintahnya, semua hal hal buruk mengenai bangsa ini di siarkan, demo yang rusuh, pemerkosaan, pembunuhan, mahasiswa yang tidak tau aturan, bahkan ..sebatang pohon tumbang, dan seekor sapi yang lepas di jalanan-pun, tak luput dari pemberitaan. Rakyat kita sudah lama kehilangan harga diri sebagai bangsa, sudah lama bangsa ini malu pada kondisinya, rendah diri, inferior, tidak percaya diri, frustasi, adalah beberapa yang disebabkan demokrasi dan kebebasan tanpa batas di negeri ini.
Saya yakin, bangsa ini mempunyai semua yang diperlukan untuk maju, yang belum ada adalah…keinginan dan tekad yang sama, dari semua elemen bangsa.
Majulah Indonesia, majulah rakyatnya !!















